Cerita Anak

CECAK            

         Firda kecil,   2  tahun  masih     cedal   kalau  ngomong.  Suatu ketika melihat cecak yang tidak ada ekornya. Sambil menunjuk, dia berkata pada papanya,

Firda  : “Papa …..Papa …… itu   cecaknya  nggak ada etongnya.

Papa  : (Dasar papanya memang senang nggoda) “Cecak kok ada enthongnya to Fir …Fir            …… ya jelas nggak ada (diulang 2 x)

Firda  : (Dengan muka yang terlihat marah karena dia tahu kalau tidak bisa bicara jelas)              tiba-tiba berkata, “Papa ……Papa………itu cecaknya nggak ada bunn…tutnya. (ha …ha…ha…. tentu saja yang mendengar pada ketawa, cerdas juga ni anak)  

 ARUM MANIS           

          Ahad ini aku mengajak Firda (2,5 th) ke kebun binatang Gembira Loka, Suamiku memintaku berjalan dulu dengan Firda, sementara dia memarkir sepeda motornya. Sambil menunggu suami di dekat pintu masuk, para penjual arum manis menawarkan dagangannya. Cara mereka menawarkan pun terbilang nekat, salah 1 dari mereka langsung menyodorkan pada Firda. Firda yang tahunya diberi langsung aja diterima. Dalam hatiku, wah pakai pewarna-pewarna gini suamiku paling tidak suka. Apa mau dikata arum manis sudah berada di tangan Firda. Untuk membujuknya tentu bukan hal mudah, dia pasti akan menangis jika harus mengembalikan yang ada di tangan.dan anak menangis di tempat keramaian wah bisa bikin stress. Terpaksa aku bertanya berapa harga arum manis tersebut. Si penjual dengan wajah penuh kemenangan mengatakan Rp. 1500,-Sementara disakuku hanya ada uang 750 rupiah, uang yang lain masih ada di tas yang ada di sepeda motor. Kutawar 750 rupiah, penjual tidak mau, masih dengan senyum yang merasa menang. Terang aja aku bingung. Melihat aku bingung menawar dengan  penjual, tahu-tahu Firda berkata dengan si penjual sambil menyodorkan tangannya yang membawa arum manis, ”Nii nggak jadi aja!”. Aku terkejut tapi juga terharu. Wah anakku menyelamatkan mamanya. Akhirnya penjual menyerahkan arum manis tersebut dengan harga 750 rupiah. 

  

KARDUS KUE           

Malam Rabu, Firda (3,5 th) kuajak pengajian di rumah tetangga. Setelah acara inti pengajian selesai, tuan rumah menghidangkan makanan kecil yang di taruh di kardus. Memang kami yang dewasa melihat ada yang kurang sesuai karena kardusnya besar, yang mestinya diisi untuk aqua gelas, namun kali ini tidak sehingga tampak tidak seimbang (tentu saja kami hanya mengatakan dalam hati). Tiba-tiba Firda kecil nyeletuk, ”Kok cuma ini, apa nggak ada yang lain?” (Ibu-ibu yang mendengar pada tertawa, untung tidak ketahuan yang punya rumah, karena yang malu tidak hanya si tuan rumah, tapi aku mamanya juga akan malu) 

NENEK SATU 

Suatu hari terdengar pintu di ruang praktek diketuk, si kecil Amanda (3 tahun) segera berlari membuka pintu. Firda sang kakak mengikuti dari belakang, kemudian datang padaku sambil berbisik, “Ma, pasiennya kayaknya nenek-nenek”. Amanda yang sudah berada di dekatku segera menyela, “Buu …kann ….., nenek satu” (dia pikir nenek-nenek itu jumlahnya banyak)  

AKU MASIH B            

Suatu hari Amanda (4 tahun) sedang bercerita dengan kakak dan buliknya (tante), sang kakak bertanya tentang menstruasi yang diistilahkan dengan ’M’. Amanda kecil tiba-tiba nyeletuk. ”Kalau bulik sudah M, berarti aku masih B ……………? Tentu saja bulik dan kakaknya tertawa.   

MUDAH TERKEJUT 

            Fia, bayi 4 bulan keponakanku sangat mudah terkejut. Ayahnya bercerita kalau anaknya mendengar suara yang agak keras, dia akan terkejut, bahkan bila mendengar….. maaf …..kentutnya sendiripun terkejut. !!!!!!?

  

Biologi Molekuler

animasi biomol

berikut ini animasi mengenai translasi dna.ppt 

Tentang Farida

Nama Lengkap : Farida Juliantina Rachmawaty, Lahir di Temanggung, 24 Juli 1969 dari seorang ibu yang bernama Noor Rachmah dan ayahnya bernama Poen Moehamad Imron.

Saat ini saya menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.